Haru Pilu Semoga Berlalu

Islami Kreatif Unggul

Siti Hamida Puspitasari
Mahasiswa PPKn Sm.1

Tak terasa tahun pun berganti dengan cepat, rasanya enggan berlalu begitu saja tanpa makna dan sebuah arti, dimana tahun yang didamba-damba sebagi tahun yang sangat indah banyak harapan yang disemogakan, banyak rencanya yang dipersiapakan, banyak angan-angan yang dihayalkan, banyak kisah yang akan diwujudkan tetapi takdir berkata lain baru menginjak di penghujung tahun 2019 ada virus yang mematikan bernama covid19 atau corona saat itu mengubah dunia dalam sekejab saja.

Memang pada Desember tahun lalu kita masih bisa berkumpul, bersenda gurau, entah sekedar pergi bersama mengelilingi kota sambil bertukar isi kepala, atau hanya menikmati secangkir kopi hangat ditemani rasa bahagia, bersenda gurau berbalut canda tawa  merayakan, hangatnya rasa persahabatan dan pergantian tahun dengan begitu sempurna. Memiliki harapan yang sama dan tujuan yang sama serasa pergantian tahun itu begitu berkesan ditambah dengan suasana yang sangat indah, kembang api yang saling sahut menyahut berbahur menjadi satu. Disitu tumbuh banyak harapan dikepala yang serasa ingin diketahui semua orang.

Detikpun berganti, menit yang semakin menepi dan jam pun serasa ingin pergi,serta hari yang mulai berganti. Awal bulan pun segera menghampiri diri, akupun bergegas mempersiapkan diri mewujudkan segala harapan yang sudah tersusun dengan rapi tak lupa doa selalu terpanjatkan agar dipermudahkan dalam setiap langkah. Bulanpun berganti disitulah mulai berbagai problema mulai dari pertemanan hingga percintaan. Kecemasanpun mulai datang ditambah rasa takut yang begitu besar. Satu persatu masalahpun berdatangan yang awalnya bisa bertatap muka, bersenda gurau dengan leluasa kini sedikit demi sedikit mulai dibatasi. Banyak rencanapun mulai musnah dengan tiada kepastian, hanya kata semoga yang mampu terucapkan.

Ternyata benar baru menginjak bulan ketiga semua berubah dengan sekejab, jika dibulan yang lalu masih bisa berkumpul bersama sekedar bertukar cerita dibulan ini sudah tidak bisa, jampun dipersempit pertemuan semakin sedikit, kebiasaan-kebiasanpun mulai pudar jabat tanganpun ditiadakan dengan mulut terbungkam dengan berlapis kain. Harapan pun semakin berguguran yang semula sudah diplaning  dengan rapi, dengan manis pupus ditengah jalan.Tahap demi tahap pun menghilang, hanya rasa kecewa yang mampu menjadi teman. Yang seharusnya bisa merayakan perpisahan bersama teman dengan begitu indah hanyalah tinggal kenangan. Semua yang telah disiapkan serasa sia-sia tanpa guna. Tak ada pertemuan dan Tak ada kata selamat tinggal, hanya doa yang mampu dipanjatkan semoga sukses dalam tercapai segala tujuan.

Akupun bergegas bangkit  hingga bulanpun berlalu dengan cepat hingga tak terasa puasa Ramadanpun tiba tidak ada kebiasaan yang dilakukan hanya sholat tarawih dengan jarak 1 meter yang dilaksanakan itupun harus menggunakan masker yang membuat nafas terasa sesak. Begitupun dengan idul fitri tidak ada kebiasaan yang dapat dilakukan, hanya sholat idul fitri yang mampu dilaksanakan. Tak hanya itu perkuliahanpun dilaksanakan secara daring tidak ada tatap muka dengan dosen, bahkan dengan teman barupun tidak dapat berjumpa.

Tahun ini memang tahun terberat, tahun yang berbeda, tahun begitu menguras emosi, dan tahun penuh dengan ketakutan. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari tahun ini mulai usai sebelum waktunya hingga rasa kecewa bahkan belajar mengikhlaskan sesuatu. Hal ini bukan hanya untuk diriku tapi untuk semua orang, dan tak terasa penghujung tahun menyapa kembali dengan segala problema yang masih belum teselesaikan, suasana yang masih mencekam membuat kita hanya duduk terdiam selagi menata sebuah harapan ditemani doa yang selalu dipanjatkan. Diakhir tahun ini hanya beberapa harapan yang mungkin terencanakan  agar covid19 segera usai dan semoga ditahun 2021 segala harapan yang belum terkabul ditahun 2020 dapat terwujudkan, dan serta dimudahkan dalam menggapai segala tujuan dan yang telah dicita-citakan.